Oleh: taufikmjc | Maret 13, 2009

Pertemuan Mega-JK, Awal Koalisi Merah-Kuning

JAKARTA – Pertemuan politik pertama Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla belum menghasilkan keputusan strategis. Kedua pemimpin partai besar itu hanya membahas hal-hal umum seperti kesepakatan untuk mengadakan pemilu secara damai, belum sampai pada tahap koalisi.

Pertemuan Megawati dan Jusuf Kalla berlangsung tertutup selama 30 menit di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. Kalla yang bertindak sebagai tuan rumah datang menyambut Mega yang datang bersama putrinya, Puan Maharani, menumpang Mercedes-Benz S500 B8434 BS. Kalla beberapa menit sebelumnya datang ke tempat pertemuan dengan VW Caravelle hitam B 8293 FD.

Keduanya lantas beranjak ke ruang tengah berukuran 6 x 12 meter. Kalla dan Mega duduk semeja bersama Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufiq Kiemas serta Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar Surya Paloh.

Di meja lain, duduk Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung, Ketua Bappilu PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo, Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani, Sekjen Partai Golkar Soemarsono, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono, dan Ketua Bappilu Partai Golkar Burhanudin Napitupulu.

Pembicaraan berlangsung santai sembari menikmati makan siang. Hidangan yang tersaji di meja, antara lain, nasi goreng, jus stroberi, gado-gado, opor, tahu gejrot, dan soto ayam. ”Kami berdua tadi makan enak. Saya paling suka makan nasi goreng kampung. Saya bilang ke Pak Kalla, saya makan nasi goreng kampung karena nasi kampung yang paling enak,” ujar Mega dalam keterangan pers seusai pertemuan.

Pertemuan singkat tersebut menghasilkan lima komitmen yang rilisnya dibagikan kepada wartawan sebelum keduanya menggelar keterangan pers. Lima kesepakatan tersebut adalah, pertama, membangun pemerintahan yang kuat untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Kedua, memperkuat sistem pemerintahan presidensial sesuai amanat UUD 1945 yang memiliki basis dukungan yang kukuh di DPR. Ketiga, memperkuat sistem ekonomi untuk melaksanakan program ekonomi yang berdaulat, mandiri, serta berorientasi pada kepentingan rakyat.

Keempat, mempererat komunikasi politik PDI Perjuangan dan Partai Golkar sebagai perwujudan tanggung jawab dua partai politik terbesar hasil Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. Terakhir, menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2009 secara jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia serta aman dan bermartabat.

Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Jusuf Kalla dan Megawati tanpa menyertakan jabatan masing-masing. Kesepakatan itu dibacakan secara bergantian oleh Sekjen Golkar Soemarsono dan Sekjen PDIP Pramono Anung Wibowo.

Mega menyatakan, pertemuan tertutup tersebut sama sekali tidak menyinggung rencana membangun koalisi menghadapi pilpres 2009. Melainkan membahas masalah golput serta upaya mempertahankan pemilu yang jujur dan adil.

”Kami berdua akan instruksikan kepada warga, baik kader maupun masyarakat, untuk melakukan pemilu dengan baik. Jangan golput. Gunakan hak pilih sebaik mungkin karena itu yang akan memajukan proses demokrasi di masa mendatang,” tegas mantan presiden tersebut.

Mega berharap pertemuan silaturahmi itu bisa mendorong penciptaan suasana pemilu yang aman dan tertib bagi rakyat Indonesia. Sukses Pemilu 2004 yang berlangsung mulus tanpa kekerasan bisa dipertahankan pada pemilu tahun ini dan masa-masa mendatang. ”Semua tahu, kulminasi akan ada pada pilpres Juli nanti. Apa pun juga yang terjadi di pengujung 2009, itu merupakan proses yang dinamikanya cukup tinggi. Walau suasana politik hangat, kita berusaha agar tenang dan damai,” ungkapnya.

Mega mengakui, pertemuan tersebut bisa saja menjadi awal dari koalisi antara PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Namun, keputusan untuk koalisi atau tidak diserahkan pada mekanisme internal partai masing-masing. ”Ini suatu awal pertemuan dua tokoh dan pengurus dari dua partai. Setelah ini akan tetap terjadi komunikasi dan keputusan akhirnya akan diserahkan pada masing-masing DPP,” tutur Mega.

Pada kesempatan tersebut, Kalla mengungkapkan, keputusan koalisi bukan berada di tangan ketua umum, melainkan di tangan peserta rapimnas khusus DPP Partai Golkar. DPP hanya bertugas menjalin komunikasi dengan semua partai. Namun, keputusan akhir untuk koalisi dengan partai mana akan ditetapkan setelah pemilu legislatif.

”Kami membicarakan soal kesepakatan dua partai untuk menciptakan pemilu damai, tidak membicarakan di luar itu,” tegasnya.

Meski Golkar masih malu-malu menyatakan kesediaan untuk berkoalisi, kubu PDI Perjuangan menilai pertemuan tersebut merupakan awal dari koalisi pada pemilu presiden dan pemerintahan mendatang. ”Arahnya pasti koalisi. Kami ingin Golkar dan PDIP bersama-sama di pemilu presiden dan pemerintahan. Siapa presiden dan wakilnya, diserahkan melalui mekanisme internal partai masing-masing. Jadi, sabar saja,” ujar Ketua DPP PDIP Arif Budimanta.

Menurut dia, kedua partai bercita-cita sama, yaitu membangun pemerintahan yang kuat. Caranya, mewujudkan sistem presidensial dengan basis dukungan parlemen yang kuat. ”Sebelum pemilu legislatif, kami tetap berusaha sendiri-sendiri. Caleg dari kedua partai juga tetap berkompetisi di bawah,” ungkapnya.

Menanggapi pertemuan Kalla dengan Megawati, calon presiden Prabowo Subianto menganggap itu hal yang positif. Menurut dia, pertemuan antarelite partai politik sangat penting. ”Saya menilai pertemuan itu baik untuk mencari solusi antar persoalan bangsa,” katanya seusai menghadiri Forum Rembug Buruh Nasional di Hotel Grand Cempaka kemarin.

Pertemuan dua parpol besar tersebut, menurut Prabowo, juga akan dilihat positif oleh masyarakat. Pemimpin yang lain, kata dia, bisa melakukan hal serupa. ”Yang terpenting tujuannya untuk kepentingan bangsa, bukan semata-mata kekuasaan,” tegasnya.

Dia belum melihat pertemuan PDIP-Golkar sebagai embrio koalisi. Sebab, pertemuan kedua parpol tersebut baru tahap awal. Wacana blok-blok yang ada sekarang ini, kata dia, juga baru sebatas wacana. Semua baru akan terlihat setelah pemilihan umum legislatif 9 April nanti.

”Kami juga melakukan komunikasi dengan partai lain. Saya juga aktif berkomunikasi dengan pimpinan lain, tapi tidak selalu diumumkan. Ini kan demokrasi, harus saling berkomunikasi,” paparnya.

Pertemuan Megawati dengan Kalla tidak memiliki indikasi adanya koalisi. Sebab, kedua partai memiliki visi yang sama sekali berbeda. Selain itu, dua partai tersebut sudah mendeklarasikan ketua umum masing-masing sebagai capres.

Hal tersebut dikatakan pengamat politik LIPI Indria Samego dan guru besar Politik UIN Syarief Hidayatullah Bachtiar Effendi dalam diskusi di Rumah Makan Tiga Putri, Jakarta, kemarin. ”Dua partai itu jelas sangat berbeda. Visi dan misi mereka bertolak belakang. PDIP itu kekiri-kirian, sementara Golkar itu kan partai pemerintah. Mereka menganut developmentalisme. Itu tidak bisa ketemu,” ujarnya.

Malahan, kata dia, Partai Golkar secara visi dan misi lebih dekat untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat. Namun, itu tidak mungkin dilakukan. Dengan gencarnya pemberitaan dan komitmen yang diucapkan JK berkali-kali, kembalinya JK ke SBY justru akan menjatuhkan kredibilitas JK. ”Publik akan melihat, ini belum jadi pejabat saja tidak konsisten, apalagi kalau sudah menjabat. Kredibilitas politik JK akan jatuh,” tegasnya.

Bachtiar menilai, pertemuan itu hanya untuk menunjukkan bahwa Golkar memiliki kemampuan untuk menggalang dukungan melawan SBY. ”Istilahnya, itu untuk mencitrakan bahwa Golkar mendapat banyak dukungan,” katanya.

Hal senada diungkapkan Indria Samego. Menurut dia, PDIP sangat diuntungkan oleh pecahnya kongsi antara SBY dan JK. Hal itu membuat perjuangan melawan sang incumbent lebih mudah. Sebab, dukungan dari partai pemenang Pemilu 2004 tersebut tidak lagi ke SBY.

Dia menuturkan, PDIP melihat ada keretakan antara duet SBY-JK. Mereka dengan cepat membaca itu dan langsung menggagas pertemuan tersebut. ”Bila Golkar benar-benar meninggalkan SBY, SBY seperti kehilangan salah satu sayapnya. Akan lebih mudah bagi PDIP untuk melawan dia,” ungkapnya.

Namun, Indria memuji gerakan politik yang dilakukan JK. Pertemuan itu, kata dia, belum pernah terjadi di Indonesia. ”Kita tidak pernah melihat ini sebelumnya. Ada partai pemerintah yang menemui tokoh partai oposisi. Kecuali di negara maju, itu tidak pernah terjadi. Ini merupakan terobosan silaturahmi politik yang luar biasa dari JK,” tegasnya.

Dia menambahkan, pertemuan tersebut menjadi strategi pencitraan yang jitu dari kedua partai. Tanpa harus beriklan dengan biaya besar, semua media di Indonesia meliputnya sebagai berita besar. ”Semakin lama, para pemilih akan terpengaruh untuk memilih partai dan orang-orang itu,” katanya. (noe/tom/aga/nw)

Sumber : jawapos.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: