Oleh: taufikmjc | Agustus 21, 2007

Ketika Virus HIV/AIDS Terus Gerogoti Nyawa Usia Produktif

Minggu, 19 Agt 2007
Dalam Sehari Kemarin, Dua Orang Meninggal

Virus HIV/AIDS seperti “berlomba” dengan virus flu burung. Celakanya, lombanya sama-sama ganas dan sama-sama mengancam jiwa manusia. Belakangan, nyawa semakin banyak tak terselamatkan karena HIV/AIDS.

DIDIK D. PRAPTONO, Denpasar

MENYANDANG generasi produktif, seharusnya memiliki peluang dan kesempatan yang besar untuk bisa hidup lebih baik. Namun, harapan dari teori itu terkadang tak lagi selaras dengan realita.

Ironisnya, bukti dari ketidakcocokan teori dengan realita berdampak pada mereka yang akhirnya terjerumus dalam kondisi suram. Tuntutan gaya hidup diseimbangkan dengan aktivitas kerja seperti menjadi guide (pemandu wisata), pegawai lepas art shop, karyawan kafe, bahkan pengedar sekaligus pecandu narkoba, menjadikan banyak orang lupa (kadang) terlena dengan keadaan.

Akibatnya? Tak sedikit dari mereka yang mengaku “teledor” malah berujung maut. Dalam hitungan tiga hari di buku register instalasi Forensik RS Sanglah, minimal ada empat orang tewas karena positif mengidap virus HIV/AIDS.

Mereka didiagnosa menjadi pasien B24 stadium akut. “Ya begitulah, yang mengidap kok mereka yang masih muda-muda ya,” terang seorang petugas RS kepada koran ini.

Bahkan empat orang itu belum termasuk napi penghuni Blok E No 2 Lapas Kelas II A Kerobokan berinisial SD,28, yang tewas karena HIV/AIDS. Tapi diagnosa dokter menyebut TBC paru.

Disusul Wayan SR, 33, guide yang tinggal di Jl Wanagiri Ungasan Kuta. Dia juga meregang nyawa dan tewas akibat terinfeksi virus mematikan ini. Sehari kemudian, seorang junkies berinisial Komang WS, 27, juga nyawanya tak tertolong. Sebelum meregang nyawa dan tewas, WS sempat menjalani perawatan di sal Lely RS.

Memprihatinkan, memang. Kesan tak ada jera dan lebih bangga dengan predikat generasi loyo seakan masih saja melekat. Terparah lagi kemarin. Dua orang lagi harus setor nyawa gara-gara mengidap penyakit yang belum ada obat penawarnya ini.

Dua Pasien nahas itu yakni DS, 21, perempuan yang tinggal di kawasan Banjar Gaduh, Sesetan Denpasar. Dia meninggal sekitar pukul 08.15 dengan diagnosa pasien B24 stadium akut.

Akibat parahnya penyakit TB paru yang dideritanya, SD hanya mampu bertahan empat jam di RS Sanglah. Keluarga pun tak sanggup menolak takdir ini. Dikabarkan, bekerja di sebuah kafe di seputaran Sanur, SD dikatakan keluarga jarang pulang ke Lombok.

“Setahu kita dia memang sakit sejak setengah tahun lalu. Kita pun baru tahu sakit setelah dikabari teman saat dia sempat diopname di RS,” paparnya. Setelah dinyatakan meninggal, keluarga langsung membawa SD ke tanah Sasak, Lombok.

Sedangkan korban kedua meninggal yakni Nengah SR, 32. Pria asal Abian Tuwung, Tabanan ini pun kemarin meninggal setelah sempat menjalani perawatan di ruang Lely sejak tiga minggu di RS Sanglah.

Tidak tahu penyebab hingga pria asal daerah Lumbung Beras ini meninggal terinfeksi HIV/AIDS. Paalnya keluarga enggan berkomentar terkait kematian SR.(*)

by: Radar Bali (jawapos)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: